TV 21″ PureFLAT 900rb???

Percaya nggak? Ada TV buatan Jepang 21” PureFlat harganya 900 rebu perak? hueheheheheh… gw sendiri nggak percaya. Gw kirain itu merek china. Iya, TV AKIRA:D gw coba search di internet, ternyata ini merek jepang, yaitu Akihabara Electric (http://www.akiba.or.jp/english/). Hehehe… kebetulan ini gw liat di Electronic City (Bogor Botanical Center, IPB) gw tanya mas-mas-nya, dia bilang ini TV pake tabung Samsung… ini keluaran terbaru mas, jadi masih promo. Cuman suaranya belum surround, tapi tetep stereo. weh… tadinya nyari TV 14”, ketemu ini ya wis, tak sikat wae.. langsung gw beli, gw bawa pulang.

Sampe di rumah, gw oprek-oprek.. wow, ternyata ada DVD Component Input-nya, sama support S-Video.. boleh juga nieh. Gw coba-coba remote-nya… walah.. ini sih mirip banget sama TV Tunner External-nya si Haudi. Banget-banget dah.. Gw jadi mikir, jangan-jangan ini tv sebetulnya kayak monitor pc, trus di tancepin tv tunner yg 150rb-an.. huahahahahaha… tapi gpp deh, 900-rebu gitu loh.. dapet 2 composite input, 1 dvd component input & 1 composite output juga udah alhamdulillah… walaupun belum bisa maen PS3 yg udah support HDMI :( hiks….

Bulan depan mu gw coba pake S-Video out dari VGA Card, mu liat kwalitasnya, skalian maen NFS Underground 2 & Doom 3 hehehehe… simak liputannya bulan depan yee…

UPDATED!



Gw udah test AV-In dari output VGA. The result is: un-acceptable. AV Out dari VGA kalo di tembak ke layar CRT cuman cocok buat nonton DVD… Kalo untuk Ngoding? Nggak lah yaow… bisa-bisa lebih mahal biaya ke dokter mata daripada harga tv-nya sendiri. Untuk maen games, kalo sekedar kayak NFS atau game2 lain yg sejenis mungkin masih oke, tapi kalo udah game RPG atau 1st person shot, mending maen di monitor yg 17” aja dah… Untuk S-Video belum dicobain, nyari-nyari kabelnya nggak ketemu-ketemu nih… nunggu dapet deviden aja ah… skalian bli DVD player yg ada component out-nya :D

PC IR Remote Control

Beberapa hari ini gw lagi keranjingan elektronik, setelah beberapa tahun absen nggak pernah nyentuh plastik-plastik tersebut. ni dimulai waktu nggak sengaja gw baca tentang MythTV, disitu disebutin bisa pake LIRC untuk controllingnya :D trus nyari-nyari skematik untuk IR Receiver, ketemu punyanya Trimbitas (bisa di cek disini http://stuff.nekhbet.ro/2006/07/10/make-an-infrared-remote-control-for-pc.html/trackback/). Komponen udah ngubek-ngubek bogor, nggak ada yang punya TSOP1738 IR Receiver. Kebanyakan toko pada melongo ‘hah? receiver? infrared?’ Haduh byung, masak toko elektronik kagak mudeng infrared?
Beruntung ada sebuah toko di Pasar Anyar, sebelah Borobudur Plaza. Gw minta IR LED sama Receivernya, dia kasih deh, cuman TSOP1240, yang 1738-nya nggak ada. Ya wis, daripada nggak punya.

Sampe rumah langsung gw rakit n nggak sabar nunggu besok pagi buat testing. Tziing… lha, kok nggak ada respon? gw udah colokin ke COM1, pake WinLIRC, gw teken-teken remote, nggak ada respon. Gw coba tanya ke trimbitas, dia bilang, bisa aja pake TSOP1240, cuman lo musti punya remote yg 40kHz… temen dia pake TSOP1238 bisa katanya. Wah… sedih deh.. gimana coba cara tau remote yang 40kHz? temen-temen ada yang tau mungkin?

Besok gw mu coba rakit yang untuk IRDA Motherboard module. Kalo ini pake photodiode sama infrared LED. Barangkali bisa buat IrDA, lumayan buat sync PalmOS sama PC :D hehehehe…

Electrical Engineering vs Computer Science

source: http://philip.greenspun.com/humor/eecs-difference-explained

Electrical Engineering vs. Computer Science

Once upon a time, in a kingdom not far from here, a king summoned two of his advisors for a test. He showed them both a shiny metal box with two slots in the top, a control knob, and a lever. “What do you think this is?”

One advisor, an engineer, answered first. “It is a toaster,” he said. The king asked, “How would you design an embedded computer for it?” The engineer replied, “Using a four-bit microcontroller, I would write a simple program that reads the darkness knob and quantizes its position to one of 16 shades of darkness, from snow white to coal black. The program would use that darkness level as the index to a 16-element table of initial timer values. Then it would turn on the heating elements and start the timer with the initial value selected from the table. At the end of the time delay, it would turn off the heat and pop up the toast. Come back next week, and I’ll show you a working prototype.”

The second advisor, a computer scientist, immediately recognized the danger of such short-sighted thinking. He said, “Toasters don’t just turn bread into toast, they are also used to warm frozen waffles. What you see before you is really a breakfast food cooker. As the subjects of your kingdom become more sophisticated, they will demand more capabilities. They will need a breakfast food cooker that can also cook sausage, fry bacon, and make scrambled eggs. A toaster that only makes toast will soon be obsolete. If we don’t look to the future, we will have to completely redesign the toaster in just a few years.”

“With this in mind, we can formulate a more intelligent solution to the problem. First, create a class of breakfast foods. Specialize this class into subclasses: grains, pork, and poultry. The specialization process should be repeated with grains divided into toast, muffins, pancakes, and waffles; pork divided into sausage, links, and bacon; and poultry divided into scrambled eggs, hard- boiled eggs, poached eggs, fried eggs, and various omelet classes.”

“The ham and cheese omelet class is worth special attention because it must inherit characteristics from the pork, dairy, and poultry classes. Thus, we see that the problem cannot be properly solved without multiple inheritance. At run time, the program must create the proper object and send a message to the object that says, ‘Cook yourself.’ The semantics of this message depend, of course, on the kind of object, so they have a different meaning to a piece of toast than to scrambled eggs.”

“Reviewing the process so far, we see that the analysis phase has revealed that the primary requirement is to cook any kind of breakfast food. In the design phase, we have discovered some derived requirements. Specifically, we need an object-oriented language with multiple inheritance. Of course, users don’t want the eggs to get cold while the bacon is frying, so concurrent processing is required, too.”

“We must not forget the user interface. The lever that lowers the food lacks versatility, and the darkness knob is confusing. Users won’t buy the product unless it has a user-friendly, graphical interface. When the breakfast cooker is plugged in, users should see a cowboy boot on the screen. Users click on it, and the message ‘Booting UNIX v.8.3’ appears on the screen. (UNIX 8.3 should be out by the time the product gets to the market.) Users can pull down a menu and click on the foods they want to cook.”

“Having made the wise decision of specifying the software first in the design phase, all that remains is to pick an adequate hardware platform for the implementation phase. An Intel 80386 with 8MB of memory, a 30MB hard disk, and a VGA monitor should be sufficient. If you select a multitasking, object oriented language that supports multiple inheritance and has a built-in GUI, writing the program will be a snap. (Imagine the difficulty we would have had if we had foolishly allowed a hardware-first design strategy to lock us into a four-bit microcontroller!).”

The king wisely had the computer scientist beheaded, and they all lived happily ever after

Jejaka oh jejaka

Alhamdulillah, tanggal 10 desember 2006 minggu kemarin, gw melangsungkan Akad Nikah… dan sekarang, seminggu telah berlalu, gw menjadi seorang suami :D . Ternyata asyik juga yah menikah, punya keluarga, punya tanggung jawab baru. Apalagi “itu” tuuuh.. :p hehehhe… ghile benerrr dah… tau gini, mendingan merit dari dulu kala…

Selesai resepsi, pulang ke rumah mitoha (mertua) sekitar jam 15.00 dan sampe rumah itu sekitar 15.30. Rumah baru, rumah mertua, awal-awalnya canggung juga yah.. cuman si papah (papanya rika) ngomong: “udah rhie, nggak usah canggung-canggung, kan udah punya SIM (Surat Ijin Mondok)” hehehehe… ya alhamdulillah bisa juga menyesuaikan. Nunggu malem laamaaaa banget rasaan :p dah nggak ku-ku nieh..

Selepas maghrib, ngobrol2 di ruang tengah, terus murak kantong uang. (note: murak = membuka/membelah sesuatu, biasanya buah-buahan, tapi bisa juga dipake untuk yang lain). Sampe kira-kira jam 08.30 malem. Beres dari situ, gw ajak Istri gw sholat Isya & minta izin buat tidur deluan…

heheheh… deug-deugan euy… untung buku “PANDUAN NIKAH LENGKAP A SAMPAI Z” dibawa, so gw jadin panduan (kayak waktu ngerakit komputer gituh). Beres sholat sunnat 2 rakaat, ngobrol2 bentar…. trus… heheheheh udah ah… sisanya rahasia, biar gw, istri gw dan cicak di dinding serta rumput yang bergoyang yang tau… tsaahh.. firstnight

(_)

Bush Hid The Facts

Udah tau bugs ini? (atau tepatnya kebodohan ini) yup, ini terjadi di notepad keluaran setelah 9x/me. Sebetulnya bugnya nggak berkaitan sama sekali dengan bush hide the fact (or any stupid person who write “bush hid the facts”). Ini terkait sama kesalahan pendeteksian encoding yang dilakukan notepad.

well, do you want to try some?

1. buka notepad
2. tuliskan ‘AAAA BBB CCC DDDD’ (atau kombinasi 4-3-3-5 lainnya)
3. simpan filenya
4. coba buka lagi… dzeng….

lalu kemudian KEBODOHAN ini dimanfaatkan oleh orang-orang dengan memberikan info:
1. buka notepad
2. tuliskan ‘bush hid the facts’ (tanpa kutip)
3. simpan filenya
4. coba buka lagi…

pahadal mah ini udah ada dari doeloe… sama kayak dulu waktu WTC, yang disuruh nulis nomor penerbangan di word, waktu diubah ke tulisan hebrew/greek gitu, langsung berubah jadi pesawat + dua gedung = zionis + tengkorak..

heheh… aja-aja ada ja’ah..

oke, lalu kenapa NOTEPAD STUPIDITY ini bisa terjadi, well secara default notepad, kalo waktu save itu ke mode ANSI, sedangkan waktu open, dia ke mode UNICODE… coba deh utak-atik option ini… maka teks anda akan kembali :D

Welcome Bush!!

Beberapa hari lagi persiden George W. Bush akan mengunjungi Indonesia, tepatnya Bogor, lebih tepatnya lagi Kebun Raya, Sangat tepatnya lagi Kafe deDaunan (emang bush mau ngopi…?). Konon (tsah… konon bo!) di dalam Kebun Raya Bogor terdapat sebuah cafe dengan nama de Daunan. Cafe ini kalo menurut gw harganya muahal banged, isinya beragam minuman dan sedikit makanan. Paling romanse kalo kita dateng bedua sama istri (ce’ile… istri) malem-malem ke situ, trus bakar barbeque sambil nikmatin udara kebun raya di malam hari. Didepan cafe ini terdapat lapangan yang luaaasss banged. Nah, di lapangan inilah dibangun dua buah helipad untuk mendaratnya bush.

Mulai dari sekitar sebulan yang lalu agen-agen CIA, FBI dan anjing-anjing K-9 udah mulai hilir mudik di hotel salak. Kok gw bisa tau? soalnya temen gw, adiew, kerja di sono. Di hotel ini, seluruh lahan parkirnya di sewa, jadi tamu2 harus parkir di luar. Dan kayaknya, lapak tukang becak di pinggir hotel salak juga di sewa deh, soalnya mulai kemaren, tukang-tukang becak ini udah mulai nggak ada. Entah di sewa buat apa, mungkin untuk tamsya bush keliling kota sambil nyanyi “Saya mau tamasya, berkeliling-keliling kota, sambil melihat-lihat pemandangan yang ada, saya panggilkan becak, kereta tak berkuda… dst..”

Mungkin orang-orang bertanya-tanya, ada apa sebenernya bush dateng ke bogor? Apakah bogor akan dijadikan seperti Irak atau Afghanistan? Insya Allah enggak, tenang aja. Seperti saya utarakan sebelumnya, bush hanya ingin refreshing dari tugasnya sebagai polisi dunia. Dia hanya ingin bertamasya berkeliling kota sambil naik becak…..

Becak.. becak… jalan hati-hati…

The Business

Alow… sebulan nggak posting, baru sempet posting hari ini. SELAMAT LEBARAN yaa….
Menjalankan sebuah usaha ternyata nggak semudah yang dikira (haduh, kamana wae kang..?). Kira-kira dalam empat bulan ini (NOV’06 FEB ‘07) kitekite musti banting kaki, angkat tulang untuk menyelesaikan software hotel. Analisis sudah berjalan dari beberapa bulan yang lalu dan saat ini sedang tahap designing.
Sebelumnya, gw ngerjain tools untuk mempermudah dalam generating template (UI Designer). Tools ini bersifat seperti IDE aplikasi-aplikasi desktop, cuman outputnya nanti adalah sebuah template (patTemplate) yang sudah siap digunakan. Selain itu, framework library perusahaan juga udah rampung (99%) dan siap digunakan. Klenyeng-klenyeng juga nih ngerjain dua kerjaan ini. Mudah-mudahan tools ini bisa menjadi katalis dalam proses developing sistem hotel ini. Berikut adalah screen shot page designernya:

Azpiration IDE

Belum beres sistem hotel, kemaren dateng orang nawarin kerjaan. Bikin sistem untuk TKI, musti beres dalam waktu 2 bulan. Artinya: analisis+design+coding musti beres dalam 1 bulan, max: 1,5 bulan, karena yang 1/2 bulan lagi akan dipake untuk proses beres-beres. Alhamdulillah, belum pula sistem TKI ini dikerjakan, tadi malem, dateng lagi orang nawarin kerjaan lagi. Bikin e-learning, tepatnya: LCMS… hoho… what the hell is this?

Terus terang sebelumnya gw bingung banget apa itu LCMS, apa bedanya dengan LMS… mereka sama-sama e-learning toh? bisa di rujuk di wikipedia. Ternyata ada perbedaan mendasar mengenai dua makhluk ini.

Both an LMS and an LCMS manage course content and track learner performance. Both tools can manage and track content at a learning object level, too. An LMS, however, can manage and track blended courses and curriculum assembled from online content, classroom events, virtual classroom meetings and a variety of other sources. Although an LCMS doesn’t manage blended learning, it does manage content at a lower level of granularity than a learning object, which allows organizations to more easily restructure and repurpose online content. In addition, advanced LCMSs can dynamically build learning objects based on user profiles and learning styles. When both systems adhere to XML standards, information is passed easily from the object level to the LMS level.
sumber: Learning Circuits.

Mudahnya, LCMS lebih ditujukan kepada manajemen konten dari e-learning ini, sedangkan LMS ditujukan untuk manajemen e-learningnya itu sendiri. Jadi memang benar-benar berbeda. Dalam LCMS, terdapat repository yang digunakan untuk menampung sumber-sumber/bahan-bahan materi termasuk soal-soal untuk pengujian apakah materi tersampaikan atau tidak. Selain itu, terdapat juga tingkat kesulitan dari masing-masing sumber ini. Sumber-sumber/bahan materi dari repository ini disebut dengan istilah objek. Masing-masing objek memiliki meta data yang akan mengindikasikan isi, pemilik dan beragam informasi mengenai objek tersebut. Setiap objek dapat digabungkan menjadi sebuah materi yang pada akhirnya materi yang tersusun dari objek-objek tadi akan kembali di masukan ke dalam repository sebagai sebuah objek baru. Hmm.. mantab!!

Ada namanya LON-CAPA (Learning Online Network with Computer Assisted Personalized Approach). Ini dibuat oleh Michigan State University, free software dan udah lengkap buanget. Nah, yang kita pengen bikin sekarang adalah LCMS-nya saja, tidak termasuk LMS. Berikut adalah diagram integrasi antara LMS dan LCMS.

LMS-LCMS Integration in a Learning Ecosystem

dan perlu dicatat, minggu depan gw harus udah bisa presentasi LCMS dan bulan depan harus udah beres… ghelow bo! do’akan daku yah temans-temans :-D

SELAMAT BERJUANG….

Netbean Matisse

Udah coba netbean 5.0 atau 5.5. Beta? Gw sendiri baru coba kemaren setelah dari sun developer day. Sebenernya tuh CD Netbean udah punya semenjak ikutan Software Developer day dulu, cuman baru dipake sewaktu abis ngeliat presentasi mr. chuck di Sun Developer Day.

Aje gilee, pas gw cobain, GUI buildernya bener-bener manteb. Berasa nge-design dekstop app di VS.NET 2005. Wah… makin asik aja nih bikin desktop app di java. Sebetulnya sebulan sebelumnya gw lagi buat desktop app pake java untuk kementrian koperasi (software business plan). Cuman design-nya masih pake Sun JS 8 Enterprise, jadi rada2 ribet gitu. Dan finishingnya pake Eclipse 3.01 SDK. Tau netbeans 5.0 udah secanggih ini, mending pake netbean ya..

Oh iya, pada tahap development itu, kita kesulitan untuk membuat Rich Text Editor yang mendukung bullet and numbering. Walhasil, di akal-akalin pake editorkit sendiri (Extended HTML Editor Kit, lupa punya siapa). Lagian, emang sun nggak pernah ngupgrade komponen swing lagi ya (kayak JTextPane dan Editor Kitnya). Soalnya untuk editor kit RTF itu cuman support numbered list, nggak suport bulleted list.
Tapi diluar itu semua, Netbean 5.0 memang tob!! salut buat para developer netbean & matisse.

The Most Important Is Not The Song, But The Singer

Kemarin gw ikutan Lord Of The Code, event-nya microsoft buat para developer .NET khususnya ASP.NET dan VB.NET. Gw sendiri belum tau apa-apa tentang .NET, cuman pernah nyoba-nyoba aja. Kemaren pembicaranya ada Eko Idrajit, Jay Schlemer sama satu lagi lupa namanya. Dua orang ini bagian dari tim management Visual Basic .NET 2005. Seru juga ikutan seminar itu, jadi terbengong-bengong liat kecanggihan “tools” MS VS .NET 2005. Waktu jay demo-in ASP.NET development tools, gw langsung berfikir: “Gimana cara bikinnya yah..?” napa begitu? Karena divisi gw ditugaskan untuk membuat tools bantu dalam proses development, khususnya framework dan user interface designer. Waktu liat VS.NET2K5, berasa nemu emas… sayang bahasanya ASP.NET, coba bisa di tambahin plugin supaya support PHP ya :p hehehe…

Nggak nyangka, pas sore-sore waktu bagi-bagi voucher gratis MS EXAM untuk ambil sertifikasi, gw dapet… Pertanyaannya simple “Is the microsoft visual studio 2005 support refactoring?” ko gw liat orang-orang nggak pada ngacung… langsung gw ngacung ajah… gw jawab “Yes, it is” Dapet deh voucher exam buat ambil sertifikasi. Jadi sekarang belajar .NET 2.0 dulu dah, biar exam-nya bisa lulus, lumayan neh hehehehe…
Baru beli laptop juga (HP Presario V3970) Intel Core Duo 1.6GHz, 512MB DDR2, 80Gb SATA, 14” WXGA, DVD-RW + 2 os (xp home & xp prof) seharga 10.500rb… Cocok banget dah, jadi bisa diinstalin .NET, sama Sun-JS Enteprise.

Wish me luck guys.. mudah-mudahan abis lebaran ini gw bisa ambil exam-nya microsoft di .NET Application Development Foundation (MSTS)

Product In A Box!!

oyeah… di tengah-tengah kepusingan mikirin PDF Viewer for Java dan garis kematian…. #$@!?
Sekarang gw lagi ngerjain software Business Plan untuk UKM, teknologi yang dipake Java (J5SE) <—- lho, kok J5SE? hehehe.. soalnya gw pake JDK 1.5, nah, sun sendiri bilang bahwa kalo JDK 1.5 itu disebut Java 5.0 jadi ya udah, karena gw pake Standard Edition dan JDK 1.5, maka gw sebut J5SE :-P

oh iya, dari duluuuu, gw kepingin punya produk software yang bisa di bundle pake kardus dan buku manual. Kereeen banget kayaknya. Jadi kayak box-nya windows atau software-software ori lainnya gitu. Dulu pernah punya, waktu kerja di Arandosoft, gw bikin aplikasi inventory untuk swalayan & grosir, namanya haadiq. Itu di bundle dalam sebuah kotak kardus dan didalemnya ada CD yang dipaket dengan rapih. Cuman waktu itu gw belum bikin user manual. Nah, pada project kali ini (now, in my own company hehehe :-) ) gw pengen bikin kerdus buat software UKM ini ah, jadi bisa di pajang di meja kerja gw hehehehe… Kerennn rasanya…

updated! for showing PDF document inside Java application, you can read sun’s articles here: Accessing a PDF Document with the Acrobat Viewer JavaBean